EDISIINDONESIA.id – Babak 16 besar Piala Dunia 2026 resmi usai setelah Swiss menundukkan Kolombia lewat drama adu penalti 4-3 di Vancouver, Kanada, pada Rabu (8/7/2026) dini hari WIB. Dengan tuntasnya fase ini, bagan 8 besar Piala Dunia paling ambisius sepanjang sejarah, yang diikuti 48 negara dan 104 pertandingan, akhirnya terbentuk sempurna.
Namun, di balik gegap gempita rekor gol dan drama comeback, turnamen ini juga meninggalkan jejak kontroversi yang melibatkan intervensi politik tingkat tinggi hingga kritik tajam terhadap independensi badan sepak bola dunia itu sendiri.
Data resmi FIFA menunjukkan pola yang sulit dibantah. Dari delapan tim yang lolos ke perempat final, enam di antaranya berasal dari zona Eropa (UEFA), yakni Prancis, Inggris, Belgia, Norwegia, Spanyol, dan Swiss. Hanya tersisa satu wakil Afrika (Maroko) dan satu wakil Amerika Latin, sang juara bertahan, Argentina. Tidak ada satu pun wakil Asia atau Oseania yang bertahan hingga fase ini.
Yang lebih mengejutkan, tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sama-sama tersingkir sebelum mencapai delapan besar, sebuah catatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.
Kanada disingkirkan Maroko 0-3, Meksiko kalah 2-3 dari Inggris, dan Amerika Serikat takluk 1-4 dari Belgia. Kegagalan kolektif tuan rumah ini menjadi salah satu narasi paling mengejutkan dari edisi 2026, mengingat ketiganya bermain di hadapan publik sendiri sepanjang fase grup.
Susunan bagan menuju semifinal juga sudah terkonfirmasi lewat sistem dua jalur yang sengaja dipisah FIFA sejak awal turnamen demi menjaga keseimbangan kompetitif.
Pemenang duel Maroko melawan Prancis akan bertemu pemenang Spanyol melawan Belgia pada semifinal pertama, sementara pemenang Norwegia melawan Inggris akan berhadapan dengan pemenang Argentina melawan Swiss pada semifinal kedua.
Balogun-gate
Di luar lapangan, kontroversi terbesar edisi ini datang dari Amerika Serikat. Penyerang Folarin Balogun menerima kartu merah langsung pada laga 32 besar melawan Bosnia-Herzegovina seusai wasit Raphael Claus meninjau ulang insiden lewat VAR. Berdasarkan regulasi resmi Piala Dunia 2026, sanksi kartu merah bersifat mengikat dan tidak dapat diajukan banding.
Namun, media Inggris The Guardian melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan tiga kali komunikasi dengan Presiden FIFA Gianni Infantino sejak 1 Juli 2026 untuk mendorong peninjauan ulang sanksi tersebut.
Sehari sebelum laga 16 besar melawan Belgia, FIFA mengumumkan penangguhan sanksi berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, sebuah ketentuan yang sama pernah dipakai untuk membebaskan Balogun dari skorsing penuh pada kualifikasi 2025.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia yang menyatakan pihaknya sedang menyelidiki semua opsi yang mungkin. Badan sepak bola Eropa, UEFA, bahkan menilai langkah FIFA tersebut telah melewati batas dan berpotensi merusak integritas kompetisi.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, turut melontarkan kritik tajam, menyebut keputusan itu sebagai preseden buruk bagi masa depan sepak bola dunia. Ironisnya, meski akhirnya diturunkan sebagai starter, Balogun dan Amerika Serikat tetap kalah telak 1-4 dari Belgia, membuat kontroversi ini pada akhirnya tak berdampak pada hasil pertandingan.
VAR Kembali Jadi Sorotan Dunia
Selain kasus Balogun, penggunaan teknologi video assistant referee (VAR) sepanjang turnamen juga terus menuai kritik. Salah satu insiden paling disorot terjadi saat laga Swiss melawan Qatar, ketika FIFA tidak membagikan bukti visual teknologi off-side semi-otomatis kepada publik seusai penalti kontroversial diberikan kepada Swiss.
Mantan bek Manchester United yang kini menjadi komentator ITV, Gary Neville, menyamakan sikap FIFA dengan sebuah diktator karena menahan bukti tanpa transparansi kepada penonton.
Sebaliknya, analis wasit ITV sekaligus wasit berlisensi FIFA, Christina Unkel, membela penggunaan teknologi tersebut, menegaskan bahwa sistem yang diterapkan pada turnamen ini mampu menghasilkan penilaian jauh lebih presisi dibandingkan mata manusia.
Perdebatan semacam ini mewarnai turnamen sejak fase grup, mulai dari gol Iran yang dianulir karena off-side hanya sekitar 1 milimeter, hingga gol kemenangan Kolombia yang dibatalkan karena selisih off-side sejauh ujung jari kaki.
Cuaca Ekstrem dan Hydration Break
Selain kontroversi wasit, faktor cuaca juga berkali-kali mengganggu jalannya turnamen. Laporan lembaga riset iklim internasional, World Weather Attribution, memperingatkan hampir seperempat dari seluruh pertandingan berpotensi dimainkan dalam kondisi panas berbahaya, dengan kota seperti Miami, Kansas City, dan Philadelphia menjadi titik paling rawan.
Sepanjang turnamen, setidaknya tiga pertandingan besar tercatat tertunda akibat badai petir sesuai protokol keselamatan FIFA yang mewajibkan penghentian laga jika petir terdeteksi dalam radius 13 kilometer dari stadion.
Laga Prancis melawan Irak di fase grup yang tertunda 2 jam, laga Meksiko melawan Ekuador pada 32 besar yang molor 1 jam, serta laga hidup-mati Inggris melawan Meksiko pada 16 besar yang juga tertunda akibat ancaman badai petir di Stadion Azteca.
Sejumlah ahli kesehatan menilai jeda pendinginan yang diterapkan FIFA masih terlalu singkat untuk membantu pemain melakukan rehidrasi secara optimal, sebuah isu keselamatan yang menurut para pengamat belum sepenuhnya tuntas dibahas publik di tengah gegap gempita hasil pertandingan.
Messi vs Ronaldo
Di lapangan hijau, rivalitas 2 dekade Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo mencapai babak akhirnya. Ronaldo resmi tersingkir usai Portugal kalah dari Spanyol di 16 besar, menutup kiprah Piala Dunia terakhirnya dengan tiga gol dari lima penampilan.
Sementara itu, Messi terus melaju bersama Argentina setelah menang dramatis 3-2 atas Mesir seusai sempat tertinggal dua gol, mengoleksi delapan gol dan satu assist dari lima laga sekaligus memimpin daftar top skor sementara turnamen, unggul satu gol dari Erling Haaland dan Kylian Mbappe.
Yang menarik, kemenangan atas Mesir itu juga mencatatkan rekor kurang mengenakkan bagi Messi, ia menjadi pemain pertama dalam sejarah yang gagal mengeksekusi dua penalti dalam satu edisi Piala Dunia di luar adu penalti, setelah sebelumnya juga gagal saat melawan Austria.
Final 2022 Terulang?
Melihat susunan bagan dan performa masing-masing tim, skenario final yang paling dinantikan adalah ulangan laga final Piala Dunia 2022 antara Prancis dan Argentina, duel yang 4 tahun lalu berakhir lewat drama adu penalti di Qatar.
Jika Prancis melewati Maroko dan Spanyol, sementara Argentina berhasil mengatasi Swiss dan salah satu dari Norwegia atau Inggris, dunia akan kembali menyaksikan panggung terakhir duel Mbappe melawan Messi di level Piala Dunia.
Dengan performa individu Messi yang masih menjadi pembeda nyata serta mental juara bertahan yang dua kali terbukti mampu membalikkan ketertinggalan dua gol, Argentina tetap menjadi salah satu kandidat kuat juara.
Namun dominasi numerik Eropa pada 8 besar membuat Prancis maupun Spanyol memiliki peluang yang sama besarnya untuk mengangkat trofi di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, pada 19 Juli 2026 mendatang.
Fase perempat final yang dimulai 10 Juli 2026 ini menjadi momentum krusial untuk menyaksikan langsung apakah dominasi Eropa akan bertahan hingga partai puncak, atau justru kembali dipatahkan oleh mental juara Amerika Latin, sebuah pertanyaan yang jawabannya akan menentukan arah sepak bola dunia untuk 4 tahun ke depan. (beritasatu)
Comment