Ekonom: Musrembang jadi Momentum Merumuskan Kebijakan Berbasis Kebutuhan Ril Masyarakat Sultra

EDISIINDONESIA.id – Peneliti dan Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Iniveristas Halu Oleo (UHO), Dr. Syamsir Nur mendukung arahan Gubernur Sulawesi Tenggara dalam Musrembang RKPD Tahun 2027 yang digelar di Kabupaten Kolaka, Senin (4/5/2026).

Dalam pelaksanaan Musrembang tersebut, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka menginstruksikan penerapan pendekatan bottom-up sebagai landasan utama penyusunan program kerja Pemerintah Daerah ke depan.

Syamsir menilai, selain menyelaraskan arah kebijakan pembangunan daerah dengan prioritas nasional, Musrenbang mesti juga menjadi forum untuk “menata ulang” prioritas pembangunan yang sejalan dengan arah dan kebijakan pembangunan dalam RPJMD Sultra.

Pertama, OPD mesti menentukan program unggulan yang menguatkan pencapaian prioritas pembangunan ASR-Hugua yakni terkait pemenuhan kualitas kebutuhan dasar (pendidikan dan kesehatan), serta infrastruktur dan ketahanan pangan.

“Ini harus di integrasikan oleh OPD ke dalam programnya di tahun ke-3 ini,” ujar Syamsir usai mengikuti Musrembang, Selasa (5/5/2026).

Kedua, target capaian pada indikator pembangunan juga mesti diurai bagaimana ketercapaiannya, termasuk peluang dan tantangan atas target yang ditetapkan. Misalnya, kemiskinan Sultra yang masih dua digit di angka 10,14% perlu diturunkan satu digit, juga perbaikan nilai tukar petani serta gini ratio dan indikator kesejahteraan masyarakat lainnya.

“Ekonomi kita sudah tumbuh tinggi di atas rata-rata nasional, berikut PR adalah tumbuh dan berkualitas,” jelas Ketua ISEI Koordinator Sultra ini.

Ketiga, prioritas program juga mesti memperhatikan penggunaan anggaran yang efisien agar alokasinya tetap berkualitas dan berdampak tinggi, kendati saat ini terjadi penurunan pagu akibat pengurangan dana transfer. Sebab menurutnya, kekurangan anggaran bukan menjadi masalah utama, tetapi bagaimana belanja di kelola.

Local Expert Kemenkeu Sultra ini menambahkan, Musrenbang Provinsi Sultra ini menjadi momentum bersejarah dan sangat penting dalam merumuskan arah pembangunan yang lebih partisipatif, kolaboratif, serta berbasis pada kebutuhan ril masyarakat.

“Di tengah dinamika pembangunan daerah yang terus bergerak cepat, pendekatan baru ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan sekaligus membuka peluang baru bagi kemajuan Sulawesi Tenggara di masa depan,” pungkasnya Syamsir. (**)

Comment