Bermula dari MiChat, Terbongkar Sindikat Penipuan dan Pemalakan di Baruga

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Kasus penipuan bermodus booking out (BO) yang menjerat seorang pria di Kendari, perlahan menyingkap jaringan pemalakan yang lebih luas.

Kepolisian Sektor Baruga kini tengah menyelidiki dugaan keterlibatan empat pemuda dalam praktik yang diduga telah meresahkan warga.

Wakapolsek Baruga, AKP Richard H. Sihombing mewakili Kapolsekta Baruga AKP Marjuni, mengungkap bahwa keempat pria berinisial D, G, T, dan A diduga berperan dalam serangkaian aksi pemalakan dan penipuan terhadap masyarakat sekitar.

“Sudah ada laporan secara lisan dari masyarakat, namun ketika diminta membuat pengaduan resmi, mereka urung karena kerugian dinilai kecil, sekitar ratusan ribu hingga dua juta rupiah,” Ujar Richard saat dikonfirmasi, Senin (5/5/2025).

Kasus ini mulai mencuat ketika seorang pria melaporkan dirinya tertipu dalam transaksi BO melalui aplikasi MiChat.

Dalam laporan yang masuk ke Polsek Baruga pada Jumat, 25 April 2025, korban mengaku mentransfer Rp900 ribu setelah diarahkan bertemu dengan dua perempuan di sebuah penginapan di Kecamatan Baruga. Salah satunya mengaku bernama Echa.

“Korban diarahkan ke sebuah penginapan di wilayah Baruga. Di sana ia bertemu dua perempuan, salah satunya mengaku bernama Echa. Setelah uang diserahkan, Echa pergi dan rekannya juga kemudian menghilang,” jelas Richard.

Tak hanya itu, korban kembali dikelabui oleh seorang pria yang mengaku bernama Tompel. Melalui akun MiChat yang sama, pria ini mengatur pertemuan lanjutan di hotel lain dan meminta tambahan uang sebesar Rp500 ribu. Modusnya serupa janji layanan, lalu kabur.

Pihak kepolisian telah mengamankan dua perempuan yang diduga kuat terlibat. Dalam pemeriksaan awal, mereka mengaku hanya mengikuti arahan dari seorang pria berinisial T.

“T adalah orang yang menjalankan akun MiChat dan memberi arahan kepada para wanita. Korban berkomunikasi dengan akun tersebut, lalu diarahkan bertemu perempuan lain,” Tegasnya.

Meski sejauh ini belum ada laporan resmi lain yang masuk, polisi tak menutup kemungkinan adanya korban-korban lain.

“Kami masih memburu TO yang diduga sebagai otak penipuan,” pungkasnya.

Richard menambahkan, pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini dan tidak menutup kemungkinan ada pelaku lain di balik skema ini.

Polisi mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap jebakan digital, terutama lewat aplikasi komunikasi tak resmi seperti MiChat.(**)

Comment