KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Abdul Razak memutuskan pindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik Sultra Dr. H. M. Najib Husain mengatakan bahwa, perpindahan politisi dari satu partai ke parta lain bukanlah hal yang baru.
Menurutnya, saat ini sangat sulit didapatkan politisi yang ideologis dengan partainya. Sebab untuk melihat bagaimana hubungan antara ideologi partai dan seorang politisi tidak lagi menjadi hal yang penting, karena kapanpun politisi bisa pindah dari satu partai ke partai yang lain.
Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fisip UHO Kendari ini juga menyampaikan, bahwa yang penting adalah partai itu bisa memberikan ruang dan juga rasa nyaman kepada politisi, tinggal bagaimana kemudian pemilih bisa memahami isu.
Sebab menurutnya, pemilih memilih para politisi bukan berdasarkan partai tetapi berdasarkan figurnya. Sehingga jika memang figur kuat, maka politisi yang pindah partai tersebut, tidak akan merasa terbebani dengan partai politik apapun yang dijadikan sebagai tunggangan politik.
“Dan menurut saya pak Razak punya kekuatan di figur. Sehingga untuk pindah dari satu partai ke partai lain bukan menjadi masalah buat pak Razak menurut saya,” katanya, Senin 26/6/2023.
Terkait isu yang beredar bahwa, Abdul Razak loncat ke PPP sebab tersandra oleh Politik Andi Sumagerukka (ASR) yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Sultra.
Dimana diketahui, sejak 2021 lalu Abdul Razak digadang-gadang oleh ASR menjadi Wali Kota pada Pilkada Kota Kendari dan akan dipasangkan dengan Andi Sulolipu yang merupakan adik kandung dari ASR.
Menurut Najib, perpindahan Razak bukan karena alasan tersebut. Tetapi dapat dikatakan bahwa figur tersebut sama-sama mempunyai tujuan yang sama.
“Pak Razak mungkin juga merasa kalau dia ke PPP tidak terlalu banyak kesulitan yang dihadapi, dibanding misalnya dia tetap di partai yang lama. Itu menurut saya, tergantung dari politisinya sendiri, kalau dia merasa nyaman dan ada ruang yang lebih bagus, yah pasti dia pindah di partai yang lain,” ungkapnya.
Apalagi lanjutnya, partai politik tidak mempunyai rambu yang ketat untuk melarang politisi untuk pindah ke partai yang lain.
“Karena sekarang orang sangat mudah untuk pindah dari satu partai ke partai yang lain,” tutupnya. (Irna)
Comment