Dua Gejala Omicron Paling Dikeluhkan, Ternyata Bukan Hilang Penciuman

Ilustrasi. Foto/SINDOnews

EDISIINDONESIA.id – Omicron masih mendominasi kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia. Tak seperti varian terdahulu, yakni Delta, di mana pasien banyak mengalami gejala demam dan kehilangan penciuman, pasien Omicron justru sangat sedikit yang mengeluhkan demam dan penciuman tetap normal.

Pasien COVID-19 dengan varian Omicron dan segala turunan subvariannya umumnya mengalami gejala yang lebih ringan jika sudah vaksin booster.

Umumnya gejala yang dirasakan bukan seperti varian Delta yakni hilang penciuman atau anosmia.

Gejala paling sering dari varian Omicron COVID-19 dalam sebuah penelitian di Inggris yakni ada 2. Apa saja?

“Orang dengan Omicron sering melaporkan sakit tenggorokan dan suara serak,” kata Studi Kesehatan Zoe. Dan gejala ini berlaku untuk pasien yang divaksinasi dan tidak divaksinasi.

Kabar baiknya, orang yang kena varian Omicron lebih kecil kemungkinannya untuk dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan mereka yang terkena varian Delta.

Bukan Hilang Penciuman

Gejala juga berlangsung untuk periode yang lebih pendek rata-rata 6,87 hari, dibandingkan dengan Delta 8,89 hari. Varian COVID-19 sebelumnya sering menyebabkan orang kehilangan indra penciuman.

Studi ini menemukan bahwa gejala muncul kurang dari 20 persen kasus dan seringkali beberapa hari setelah gejala pertama dimulai. Gejala hilang penciuman, demam, dan sesak napas kurang lazim dalam kasus Omicron. Namun, masih bisa terjadi.

Studi Kesehatan Zoe, menguji orang-orang di Inggris yang divaksinasi. Mereka menguji peserta antara 1 Juni dan 27 November 2021 ketika varian Delta dominan dan antara 20 Desember 2021 hingga 17 Januari 2022 ketika varian Omicron mendominasi.

Studi ini mengumpulkan 62.002 tes positif dan melihat gejala pasien tersebut. Selain perbedaan panjang dan jenis gejala antara kedua varian, peneliti mengatakan Omicron ditemukan jauh lebih jarang di saluran pernapasan bagian bawah. Di sinilah infeksi dapat menyebabkan gejala yang lebih parah, berpotensi mengirim orang ke rumah sakit.

Mereka juga menemukan gejala Omicron tidak bertahan lama pada orang yang divaksinasi. Omicron tampaknya jauh lebih menular daripada varian sebelumnya. Varian ini memengaruhi lebih sedikit organ daripada Delta menurut Zoe Health.

Sebuah studi serupa dari Imperial College London juga menemukan laporan yang lebih rendah tentang hilangnya indera penciuman dan rasa untuk varian Omicron.

Justru laporan gejala seperti pilek dan influenza lebih sering dilaporkan. Studi ini menggunakan data dari REACT-1, survei luas di Inggris yang mengumpulkan tes COVID-19 di rumah dari sekitar 1,5 juta peserta antara 2020 hingga 2022, dan menganalisis bagaimana gejala berbeda antara varian dan subvarian. (**)

Sumber: Jawa Pos

Comment