KENDARI, EDISIINDONESIA.id- Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan komitmen pemerintah menjaga ketersediaan pangan dan harga tetap terjangkau, meski potensi musim kemarau dapat memengaruhi produksi. Dalam kunjungan kerja ke Sulawesi Tenggara, ia memaparkan berbagai langkah besar di hadapan pemerintah daerah, TNI–Polri, dan masyarakat di area Tugu Religi Kendari.
Bantuan Pangan: 1 Juta Ton Beras Gratis dan Subsidi
Pemerintah menyalurkan 1 juta ton beras bantuan untuk 33,2 juta keluarga berpenghasilan rendah. Setiap rumah tangga menerima 10 kg per bulan untuk tiga bulan sekaligus — Oktober, November, Desember — total 30 kg per keluarga.
Selain itu, disiapkan 1 juta ton beras subsidi lewat Bulog dijual Rp12.500/kg ke pasar tradisional.
“Harga di pasar bisa Rp15.000/kg. Karena itu pemerintah hadir agar tetap terjangkau,” ujar Zulhas.
Pemerintah juga menyalurkan 150 ribu ton jagung subsidi pakan ternak Rp5.000/kg guna menekan biaya pakan dan menjaga produktivitas peternakan.
Ia meminta seluruh kepala daerah gencar menggelar pasar murah lewat anggaran tidak terduga, agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi terkendali.
Petani Lebih Sejahtera, Produktivitas Masih Dikejar
Kabar baik: Nilai Tukar Petani naik dari 116 menjadi 129. Artinya, petani mendapat keuntungan lebih cukup untuk menyekolahkan anak hingga mencicil kebutuhan hidup.
Namun, biaya produksi masih tinggi. “Di Indonesia Rp14.000/kg, di Thailand, Vietnam, India sekitar Rp4.000/kg. Mereka pakai pupuk tablet dan mesin, satu traktor garap 24 hektar sehari. Kita satu orang 1 hektar butuh 24 hari,” paparnya. Mekanisasi pertanian kini mulai digalakkan untuk mengejar ketertinggalan.
Nasib Nelayan Jadi Sorotan Khusus
Kondisi nelayan masih sulit NTN baru 103, untung tipis bahkan belum menutup modal.
“Kekayaan laut Sultra diambil orang lain, nelayan lokal tak punya daya tawar. Ikan seharusnya mahal, dijual murah karena tidak ada gudang pendingin,” jelasnya.
Presiden menargetkan NTN naik ke 120 tahun depan. Caranya: bangun 5.000 kampung nelayan lengkap dengan balai lelang, cold storage, pabrik es, dan bahan bakar. Tahun depan dibangun 2.000, berikutnya 3.000. Juga disiapkan 40.000 unit bioflok untuk budidaya ikan, masing-masing bernilai Rp1,5 miliar.
Kopdes: Tulang Punggung Ekonomi Desa
Seluruh bantuan pemerintah akan disalurkan lewat Koperasi Desa (Kopdes) beras, pupuk, subsidi, KIP, pinjaman UMKM, hingga pembayaran listrik. Target 80.000 Kopdes; 30.000 mulai beroperasi 15 Oktober nanti.
“Semua lewat Kopdes. Ini ekonomi Pancasila pangan tidak boleh dikuasai 5–6 orang kaya. Kita kejar kesetaraan,” tegasnya.
Gizi dan Kemandirian Pangan Kunci Kemajuan
Zulhas menyoroti pentingnya gizi: tinggi badan dan kualitas fisik bangsa menentukan masa depan. Setiap desa harus mandiri pangan — cukup karbohidrat maupun protein.
Ia meminta dukungan TNI, Polri, dan pemerintah daerah. “Tidak ada pihak yang sanggup sendiri. Mari kita buka lahan baru, percepat swasembada, wujudkan kemandirian pangan,” ajaknya.
Usai sambutan, Zulhas langsung meninjau Pasar Pangan Murah dan membeli kebutuhan warga bawang merah Rp30.000/kg dan telur Rp20.000/kg — memastikan program berjalan di lapangan.
Gubernur Sulawesi Tenggara menyatakan dukungan penuh:
“Sultra siap mengawal kampung nelayan dan Kopdes demi kesejahteraan warga.” (**)
Comment