Bukan Uang atau Orang Ketiga, Ini Biang Kerok Retaknya Hubungan

EDISIINDONESIA.id – Podcast Jay Shetty bersama Dr. Ona Guralnik (seorang Psycholoanalyst dan couple’s therapist) tentang hal-hal yang membuat pasangan sulit bertahan dirangkum Shofia Ishar.

Pertama, the real issue biasanya dikaitkan dengan compatibility (kecocokan) atau banyaknya kesamaan dengan pasangan. Makin banyak kecocokan, maka pasangan makin kuat. Tapi ternyata ada hal lain yang ga memainkan peran penting.

Yakni bagaimana How do you respond to the otherness (sikap dalam merespon perbedaan). Ada yang meskipun punya banyak kesamaan dengan pasangannya, tetap tidak bisa bertahan karena ruang untuk menerima perbedaan sangat sempit.

“Dengan kata lain, gak bisa santai merespon hal-hal yang berbeda. Padahal kan ya manusia memang berbeda meskipun itu pasangan kita sendiri,” tulis Shofia Ishar dikutip akun Threads, Senin, (29/12/2025).

Contoh, yang satu suka kalau habis makan langsung cuci piring, yang satu lagi sukanya santai dulu abis makan, baru habis itu cuci piring. Hal seperti ini bisa jadi masalah jika ruang untuk menerima perbedaan sangat sempit. Padahal tidak ada yang benar maupun salah. Cuma masalah preferensi waktu. Preferensi yang datangnya dari keluarga masing-masing di mana mereka tumbuh.

Ketika dua orang menjalin hubungan, maka terciptalah space of difference yang mereka sendiri tidak paham kenapa mereka berbeda. “Nah di sini lah awal seseorang membuat teori: gue yang benar dan lo yang salah,” tambahnya.

Padahal kata dia, kalau seseorang mau memperlebar toleransi terhadap perbedaan, teori saya benar dan kamu salah ini tidak perlu ada.

“Contoh: kita orang yang ambisius dan pasangan adalah orang yang santai. Nggak ada yang salah sama kondisi ini. Yang salah adalah kita merasa menjadi korban akibat pasangan kita tidak ambisius. Padahal ya kenapa kita butuh pasangan kita ambisius juga? Kalo kita yang ambis, ya kita aja yang fokus sama ambisi kita. Kenapa tiba-tiba jadi dia yang salah dan kita yang benar?,” tuturnya.

Terus gimana caranya menghadapi perbedaan ini:

Pertama, abaikan dulu kepercayaan dalam diri bahwa kita pasti benar dan dia yang sudah pasti salah.

Lalu cobalah untuk tidak seyakin itu sama narasi-narasi pribadi kita dan mulailah penasaran dengan narasi pasangan kita.

Selanjutnya, berusaha tidak hyperfocus menyalahkan tapi coba bertanya ke diri sendiri: why does this thing bother me so much?

Jika sudah melakukan semua itu biasanya intensitas diri untuk menyalahkan pasangan, mulai berkurang.

Sebagai langkah preventif sebelum memulai hubungan serius, tanya ke diri sendiri:

– do I have the capacity to love?

– am I willing to give?

– am I willing to accept the otherness?

Jangan-jangan kita belum mampu mencintai tapi maunya menerima cinta aja.

Hati-hati sama klaim, saya sudah memberi segalanya namun pasangan tidak ada perubahan. Karena umumnya seseorang yang cukup menerima nutrisi kasih sayang, ia akan memberi kasih sayang itu kembali. Kecuali orang tersebut dalam kondisi tertentu. Contoh: mentally ill. Sehingga ia tidak mampu menerima kasih sayang yang diberikan.

Pasangan yang kuat tidak diukur dari banyaknya jumlah anniversary-atau tidak pernahnya mereka bertengkar. Tapi, ketika seseorang berada bersama mereka, ada atmosfer saling mengagumi, saling respect, dan saling menerima.

“Quote yang saya suka dari Dr. Ona: a strong relationship doesn’t break under-pressure but it evolves under-pressure. Artinya, tekanan-tekanan hidup yang berat tidak memisahkan mereka namun membuat mereka berevolusi,” tandasnya.(edisi/fajar)

 

Comment