WAKATOBI, EDISIINDONESIA.id – Kabupaten Wakatobi, salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas nasional, terkenal akan keindahan bawah lautnya. Namun, di balik pesona alamnya, tersimpan kekayaan budaya dan tradisi unik, salah satunya adalah tradisi herapo-rapo, yang kini lebih dikenal sebagai “Kacang Jodoh”.
Tradisi turun-temurun ini tetap dilestarikan hingga kini, terutama selama bulan Ramadhan. Para gadis remaja memanfaatkan momen ini untuk berjualan kacang tanah sangrai.
Kacang tersebut disangrai menggunakan pasir dan dijual di depan rumah masing-masing, biasanya sepulang salat Tarawih.
Rina, salah seorang gadis penjual kacang, menjelaskan bahwa “Kacang Jodoh” bukan sekadar jualan, melainkan sarana perkenalan antara gadis dan pemuda dari berbagai penjuru Wakatobi.
Mereka berjualan dengan sederhana, menggunakan meja kecil dan penerangan lampu tempel atau lilin, dengan harga Rp1.000 per tempat.
“Lewat jualan kacang ini, gadis dan pemuda bisa bertemu, saling mengenal, dan mungkin saja menemukan ketertarikan,” ujar Rina, Minggu (9/3/2024).
Meskipun tradisi ini dikaitkan dengan mitos mendapatkan jodoh, “Kacang Jodoh” lebih menekankan pada ajang silaturahmi antar-pemuda dan pemudi di Kabupaten Wakatobi selama bulan Ramadhan.(**)
Comment