KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Andap Budi Revianto meminta agar segera dilakukan intervensi terhadap situasi inflasi di Bumi Anoa.
Hal tersebut disampaikan, Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra, Asrun Lio usai mengikuti rapat pengendalian inflasi yang rutin dilakukan sekali dalam seminggu, bertempat di Ruang Pola Kantor Gubernur Sultra, Senin (11/9/2023).
Salah satunya yang bisa dilakukan yaitu dengan melakukan pengendalian harga, yang bisa dilakukan menggunakan dana-dana Belanja Tidak Terduga (BTT).
Juga perlu adanya peningkatan kepedulian dan kohesi sosial yang sebelumnya dinilai sudah cukup kuat pada saat menghadapi pandemi Covid-19.
“Dalam mengatasi inflasi, kita juga harusnya kuat seperti kita menghadapi situasi pandemi Covid-19 itu. Artinya kepedulian dan kohesi sosial perlu kita tingkatkan,” kata Asrun Lio.
Selain itu, mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra ini juga menyampaikan bahwa, dalam rapat rutin yang dihadiri oleh Forkompinda tersebut, Pj Gubernur Sultra juga mengarahkan agar menciptakan kenyamanan dan kepastian hukum ditengah ketidakpastian global.
“Dengan mengeluarkan beberapa kebijakan pemerintah yang relevan terkait dengan inflasi yah,” katanya.
Sebelumnya Pj Gubernur Sultra dalam rapat pengendalian inflasi, Andap Budi Revianto mengatakan bahwa kondisi inflasi Sultra per Agustus 2023 sebesar 3,52 persen Year on Year (YOY) di atas rata-rata nasional sebesar 3,27 persen YOY.
Namun secara Month to Month (MTM) Sultra mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.
“Kita diatas rata-rata nasional. Tugasnya teman-teman semua, turunkan. Setidaknya dibawah standar nasional,” tegasnya.
Andap menyampaikan, bahwa inflasi di Provinsi Sultra dipantau dari dua kota, yaitu Bau-bau dan Kendari. Adapun sepuluh komoditas dengan andil terbesar inflasi di Sultra (MTM) yaitu, cabai rawit 0,08 persen, akademi/PT 0,05 persen.
Kemudian, SMA 0,05 persen, taman kanak-kanak 0,04 persen, kangkung 0,02 persen, daging ayam ras 0,01 persen, sabun atau deterjen 0,01 persen, nasi dengan lauk, 0,01 persen, udang basah 0,01 persen, kecamatan plus atau minus 0,01 persen .
Lanjut Andap menyampaikan bahwa, secara ketersediaan stok bahan pangan pokok dan strategis di provinsi Sultra dalam kondisi aman.
Tetapi ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dibanding dengan minggu kemari, seperti beras premium naik sebesar 0,11 persen beras medium 0,07 persen, telur ayam ras 0,01 persen, minyak goreng curah 0,01 persen.
“Namun ada juga yang mengalami penurunan harga seperti cabe rawit merah 11,43 persen, bawang merah 4,33 persen, dan cabe merah keriting 4,41 persen,” pungkasnya. (**)
Comment