Pertambangan Jadi Sektor Penyumbang Terbesar, Ekspor di Sultra Surplus

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Ekspor di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami surplus atau angka ekspor masih lebih dominan dibandingkan impor per Februari 2023.

Hal tersebut berdasarkan data ekspor-impor Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Kendari.

Kepala KPPBC Kendari, Purwatmo Hadi Waluja mengatakan, angka surplus ekspor tersebut ada di atas angka 50 persen, pihaknya meng-klaim bahwa angka capaian tersebut cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya di periode yang sama.

“Ini menunjukan bahwa industri kita semakin eksplore dan angka ini menunjukan ada pertumbuhan dari sektor industri,” ungkapnya.

Lanjut ia menyampaikan, untuk nilai devisa ekspor Sultra hingga Februari 2023 mencapai nilai 308.614.644 USD atau sekira Rp. 4.650.544.931.900. Sementara untuk nilai devisa impor senilai 139.045.141 USD atau sekira Rp. 2.095.326.847.785.

“Kami berharap ini akan memacu sektor-sektor perekonomian di Sultra untuk tetap mempertahankan ritme kinerja bahkan meningkatkan lagi,” harapnya.

Purwatmo menambahkan sektor pertambangan merupakan sektor yang menyumbang nilai devisa ekspor cukup besar di Sultra.

“Ada dua komoditas utama pada sektor pertambangan yakni feronikel dan stainless steel yang merupakan hasil pertambangan di Morosi, Kabupaten Konawe oleh PT OSS dan PT VDNI,” tutupnya. (EI/Irn)

Comment