EDISIINDONESIA.id- Rumah tangga itu tidak langsung hancur berantakan. Retaknya halus saja, pelan-pelan, nyaris tak terdengar sampai akhirnya… brak! Runtuh sudah tak bersisa.
Karin, perempuan berusia 37 tahun itu, sebenarnya tipe istri yang sabarnya minta ampun. Baginya, mana ada rumah tangga yang tak berselisih? Selama masih bisa diurus, ya diurus saja. Rumah tangga layak diperjuangkan.
Karena itu, saat tahu suaminya, Donwori (40 tahun), ternyata punya utang pinjaman online yang sudah menggunung, Karin masih menghela napas panjang lalu berkata: “Ya sudah, kita selesaikan pelan-pelan. Jangan diulang lagi ya.”
Mereka menikah sejak 2011, sah tercatat di KUA Kecamatan Gubeng, Surabaya. Sudah belasan tahun bersama, dikaruniai seorang anak. Hidup sederhana saja — tak berlimpah harta, tapi cukup untuk makan dan tersenyum. Sampai… utang demi utang mulai berdatangan mengetuk pintu. Bahkan tanpa mengetuk pun datang sendiri.
Karin baru sadar belakangan: suaminya ternyata berkali-kali meminjam ke sana-sini secara diam-diam. Angkanya makin lama makin membengkak, seperti balon ditiup tanpa henti.
Meski kecewa setengah mati, Karin tetap memberi kesempatan. Donwori pun berjanji dengan mata berkaca-kaca: “Saya akan lunasi semua, tak akan ulangi lagi, sayang.”
Karin pun menelan ludah: “Saya masih percaya dia bisa berubah.”
Namun sayang… janji memang manis, tapi kenyataan seringkali lebih pahit daripada jamu pahit. Kepercayaan Karin ternyata tak bertahan lama. Di tengah utang yang belum beranjak turun, Karin menemukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: suaminya ternyata punya “teman akrab” bernama Sephia.
Duh, rasanya… utang memang menyiksa dompet, tapi dikhianati itu menyakiti hati sampai ke ulu hati. Utang bisa dicicil pelan-pelan lunasnya. Tapi kepercayaan yang sudah diinjak-injak? Mau dicicil pakai apa? Tak bisa kembali seperti semula.
“Saya benar-benar kecewa. Ternyata bukan cuma soal pinjol. Dia juga punya hubungan lain,” ujar Karin dengan nada yang bercampur aduk antara sedih dan gemas.
Sejak hari itu, suasana rumah yang dulu hangat berubah jadi panas lebih dari kompor menyala. Pertengkaran jadi menu harian. Kalimat pendek bisa berubah jadi debat panjang lebar. Tak ada lagi yang mau mengalah, tak ada lagi yang mau memaklumi. Saling tatap saja sudah terasa berat.
Puncaknya tiba tahun 2024. Donwori memilih pergi dari rumah. Pisah rumah bukannya mendinginkan suasana, justru makin melebarkan jarak. Komunikasi sepi, kabar seakan hilang ditelan bumi. Tanda-tanda membaik? Tak ada sama sekali.
Keluarga sudah berusaha mendamaikan. Berkali-kali duduk bersama, bermediasi, berharap semoga ada jalan pulang. Tapi namanya juga hati kalau sudah tak mau, mau dipaksa bagaimana? Masing-masing tetap pada pendiriannya. Tak ada yang mau mengalah.
Sampai akhirnya Karin sadar: kesabaran itu juga punya batasnya. Kalau kepercayaan sudah habis tak bersisa dan harapan pun tak tersisa, untuk apa bertahan? Mempertahankan pernikahan seperti itu hanya akan memperpanjang luka.
Maka, setelah belasan tahun berlayar bersama melewati utang, janji, dan pengkhianatan — Karin pun mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Surabaya.
Perjalanan rumah tangga yang dibangun sejak 2011 pun resmi berakhir. Utang pinjol belum tentu lunas, tapi satu hal sudah pasti: Karin sudah selesai.(edisi/radarsby)
Comment