EDISIINDONESIA.id- Kegaduhan Menu Lele Mentah dalam Program Makan Bergizi Gratis: Kontroversi, Dugaan Mark Up, dan Klarifikasi BGN
Polemik soal menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di publik dalam beberapa hari terakhir. Isu ini mencuat setelah beredar sebuah video yang memperlihatkan menu makanan yang diduga tidak layak dikonsumsi, yaitu ikan lele mentah, yang kemudian memicu penolakan dari pihak sekolah di Pamekasan.
Guntur Romli Serukan Kritik Pedas
Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mengkritisi isu ini. Ia menyoroti kualitas makanan yang disediakan dan menuding adanya dugaan upaya pembelaan terhadap menu yang dipermasalahkan. Dalam pernyataannya, Guntur menyebut sosok Nanik, yang pernah terseret dalam kasus hoaks, sebagai pihak yang diduga membela menu yang tidak layak tersebut.
“Saya kira Nanik, yang pernah terlibat hoaks Ratna Sarumpaet dan kini di BGN, mau menegur Dapur MBG, padahal menu yang disusun sangat meragukan,” kata Guntur dikutip dari fajar.co.id, Selasa (10/3/2026). Ia menegaskan bahwa respons yang muncul justru tidak sesuai dengan harapan publik yang mempertanyakan kualitas makanan tersebut.
Sorotan Pada Menu Lele Mentah dan Kondisi Makanan
Guntur kemudian menyoroti menu yang terdiri dari lele mentah, tahu, dan tempe yang juga belum dimasak. Ia mengkritik keras kondisi bahan makanan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap kesehatan siswa.
“Lele mentah yang ditolak sekolah di Pamekasan, malah dibela. Ini benar-benar mencurigakan. Satu ekor lele bau amis dan berkumis, dua potong tahu dan tempe mentah untuk tiga hari,” ujarnya.
Ia mempertanyakan kelayakan konsumsi bahan makanan tersebut, terutama saat bahan tersebut sudah disimpan dalam kotak tertutup dan terpapar panas.
Pertanyaan tentang Keamanan dan Transparansi
Guntur menegaskan bahwa bahan makanan yang mentah dan berbau amis tersebut tidak layak dikonsumsi, apalagi untuk berbuka puasa. Ia menyarankan agar pihak terkait melakukan uji coba rasa terlebih dahulu sebelum membela menu tersebut.
Selain itu, ia juga menyinggung dugaan penghematan biaya dan mark up dalam pengadaan menu. Ia mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran dan besaran mark up yang dilakukan.
“Berapa mark-up-nya? Apakah Dapur MBG benar-benar peduli terhadap kualitas atau hanya mencari keuntungan?” tegasnya.
Klarifikasi dari Badan Gizi Nasional
Sebelumnya, video yang memperlihatkan ikan lele mentah tersebut viral di media sosial dan memicu penolakan dari pihak sekolah. Video itu menunjukkan sebuah kotak makanan berisi ikan lele yang tampak belum dimasak dan berbau amis, bersama tahu dan tempe mentah.
Menanggapi hal ini, Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan klarifikasi. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa video yang beredar hanya menampilkan sebagian menu dan tidak menggambarkan keseluruhan isi paket makanan.
Menu Lengkap dan Seimbang di Balik Kontroversi
Nanik menjelaskan, menu yang disiapkan sebenarnya lengkap dan beragam, termasuk lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, dan buah naga. Ia menegaskan bahwa semua menu telah disusun sesuai standar keamanan pangan dan memenuhi kebutuhan gizi siswa.
“Paket makanan lengkap dan seimbang, hanya saja dalam video yang beredar, sebagian menu tidak terlihat karena pihak sekolah menolak mengeluarkan paket dari kendaraan distribusi,” ujar Nanik.(edisi/fajar)
Comment