Dua Utusan Sultra Raih Juara di Kompetisi Film Pendek Islami Nasional

JAKARTA, EDISIINDONESIA.id — Dua utusan Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil meraih prestasi membanggakan pada ajang Kompetisi Film Islami (KFI) Nasional Tahun 2025.

Kedua karya tersebut diumumkan sebagai pemenang saat puncak penganugerahan KFI Nasional yang berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta Pusat. 

Dalam acara tersebut turut hadir Kakanwil Kemenag Sultra yang diwakili Kabid Penaiszawa H. Jamaludin, serta para peserta pemenang lomba.

Karya dari Seribu Benteng Production asal Kota Baubau, Provinsi Sultra, yang dipimpin oleh Andhy Lopes, berhasil mendominasi dua kategori utama.

Film fiksi berjudul “Cahaya Untuk Nur” meraih Juara 1 Kategori Film Fiksi, dinilai memiliki narasi yang menyentuh serta pesan moral Islami yang mendalam dan relevan.

Sementara itu, film dokumenter berjudul “Pekandeana Ana-Ana Maelu” berhasil menjadi Juara 2 Kategori Film Dokumenter dengan tema sosial keagamaan yang kuat dan mencerminkan kearifan lokal Sultra.

Menanggapi capaian tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. Sulawesi Tenggara, H. Muhamad Saleh, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan utusan Sultra yang meraih dua gelar sekaligus pada kompetisi nasional tersebut.

“Selamat kepada dua utusan Sultra yang meraih juara pada Kompetisi Film Pendek Islami Nasional. Semoga ini menjadi motivasi bagi yang lain untuk terus mengembangkan diri dan ide dalam menghasilkan karya-karya yang lebih bermutu,” ungkap Saleh, Selasa (11/11/2025).

Kakanwil menjelaskan bahwa KFI merupakan salah satu langkah pemerintah dalam memberikan semangat baru kepada generasi muda untuk menyampaikan pesan-pesan religius, kebangsaan, dan moderasi beragama melalui media sosial.

“Generasi milenial hari ini lebih banyak aktivitasnya di media sosial ketimbang di media-media lain. Kita sangat berharap melalui KFI lewat media sosial, akan meningkatkan semangat, gairah kita dalam menyiarkan ajaran agama. Sekaligus memperkokoh semangat nasionalisme dan komitmen kebangsaan kita,” ujar Kakanwil.

Menurutnya, KFI telah berhasil meningkatkan gairah masyarakat dalam berdakwah melalui film, serta menjadikan seni dan budaya sebagai sarana strategis dalam pengembangan syiar Islam dan media dakwah.

“KFI mampu meningkatkan gairah dakwah masyarakat. KFI ini sangat baik dan positif serta menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kecintaan kepada bangsa dan negara,” ungkapnya.

Diketahui, KFI merupakan bagian dari upaya Kemenag memperkuat ekosistem dakwah kreatif. Tahun ini terdapat 83 karya dari 34 provinsi yang diajukan peserta, dengan 71 karya lolos tahap kurasi nasional. Karya tersebut terdiri atas 55 film dokumenter, 13 film fiksi, dan 3 film animasi.

Sebelumnya, dua utusan Sultra telah ditetapkan sebagai nominator dari total tujuh nominator di seluruh kategori yang dilombakan.

Penilaian dewan juri tidak hanya berfokus pada aspek teknis sinematografi, tetapi juga kekuatan ide, pesan, serta nilai kemanusiaan yang diusung.

Kompetisi ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi sineas muda untuk terus berinovasi dan memperdalam makna keislaman dalam karya mereka.(**)

Comment