KOLAKA, EDISIINDONESIA.id- PT Vale Indonesia Tbk (Vale Indonesia), anggota induk pertambangan negara MIND ID, secara sistematis memperkuat sistem pengelolaan air di proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Langkah ini diambil untuk memitigasi dampak pembukaan lahan, menjaga kualitas lingkungan, serta mengantisipasi peningkatan curah hujan yang diperkirakan akan makin tinggi pada musim penghujan ini.
Penguatan dilakukan melalui percepatan pembangunan infrastruktur pengendalian air di titik-titik strategis proyek, termasuk pembangunan kolam pengendap (sediment pond). Fasilitas ini dirancang untuk mengendalikan limpasan air hujan, menekan laju erosi, dan memastikan tidak ada sedimen yang melampaui batas wilayah operasional.
Mohammad Rifai, Kepala Proyek Pomalaa Vale Indonesia, menyampaikan:
“Kami berkomitmen tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, kami terus menyempurnakan sistem pengelolaan air dengan menyesuaikan kondisi lapangan serta mempertimbangkan potensi cuaca ekstrem, lengkap dengan evaluasi berkala.
Dari pengalaman sebelumnya, curah hujan tinggi sempat menyebabkan luapan pada sejumlah kolam penampung berkapasitas kecil. Atas dasar itu, kami melakukan perbaikan teknis dan pengendalian yang makin ketat. Hingga saat ini, 16 kolam pengendap telah beroperasi, dan 3 lainnya masih dalam tahap pembangunan.”
Kolam pengendap menjadi tulang punggung sistem pengelolaan air terpadu di IGP Pomalaa. Air hujan yang mengalir dari area proyek akan ditampung, dibiarkan mengendap, lalu dialirkan secara terkendali sesuai standar lingkungan yang berlaku. Agar sistem ini berjalan optimal, Vale Indonesia juga menyalurkan jaringan listrik berkapasitas 5 Megawatt ke sejumlah titik kunci termasuk area kolam pengendap guna mengantisipasi lonjakan debit air saat hujan deras.
Selain infrastruktur fisik, pemantauan kualitas lingkungan dilakukan secara berkala, terutama di Daerah Aliran Sungai (DAS) Huko-Huko dan Sungai Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa. Pengambilan sampel air dilakukan secara terjadwal di wilayah tangkapan air sekitar proyek, agar potensi peningkatan sedimentasi dapat dideteksi sejak dini, sehingga dampak terhadap ekosistem sungai dan lahan pertanian warga dapat dicegah.
“Kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga memastikan dampaknya terkendali demi kepentingan bersama,” tambah Rifai.
Infrastruktur yang diperkuat diharapkan memperlancar aliran air menuju laut serta mengurangi risiko genangan dan banjir di kawasan permukiman. Sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana, tim Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Darurat (FES) telah disiagakan untuk memantau kondisi lapangan, mencatat dampak, serta menangani kerusakan tanggul secara dini. Tim ini juga siap membantu penyaluran logistik jika hujan ekstrem berdampak pada desa-desa di sekitar proyek.
Vale Indonesia juga menjalin koordinasi erat dengan pemerintah daerah untuk menyelaraskan langkah kesiapan. Kerja sama mencakup perbaikan fasilitas umum yang rentan terdampak, seperti drainase, tanggul, dan jalan lingkungan di sepanjang aliran sungai dan kawasan pesisir Pomalaa.
Untuk jangka panjang, perseroan juga mengandalkan solusi berbasis alam guna menekan limpasan air permukaan. Fasilitas Pembibitan Tanaman Modern di Kecamatan Tanggetada kini telah rampung 100 persen dan mampu memproduksi hingga satu juta bibit per tahun. Penanaman kembali lahan dengan vegetasi terpilih akan memperkuat tutupan tanah, menurunkan laju erosi, dan meningkatkan kemampuan tanah menyerap air secara alami melengkapi perlindungan dari arah infrastruktur dan alam sekaligus.(**)
Comment