EDISIINDONESIA.id – Kenaikan harga pangan masih menjadi salah satu tekanan utama inflasi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,82% secara tahunan (year on year) pada Oktober 2026, dengan kontribusi 1,40 poin persentase terhadap inflasi nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan berdasarkan kontribusinya terhadap inflasi nasional.
“Pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,82% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,40%,” kata Ateng dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Ateng menjelaskan, kenaikan harga pada kelompok tersebut terutama dipengaruhi cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, dan daging ayam ras. Komoditas lainnya yang turut memberikan tekanan inflasi adalah daging sapi dan sigaret kretek mesin (SKM).
Secara keseluruhan, inflasi tahunan Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23%, melambat dibandingkan September 2026 yang mencapai 3,28%. Meski inflasi nasional melandai, kenaikan harga pangan masih memberikan kontribusi cukup besar terhadap perkembangan harga.
Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan sebesar 4,87% dengan kontribusi 0,59 poin persentase. Kenaikan terutama dipengaruhi harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, serta biaya perawatan kendaraan.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi sebesar 4,52% dengan kontribusi 0,32 poin persentase. Kenaikan harga emas perhiasan dibandingkan Oktober 2025 menjadi faktor utama inflasi kelompok tersebut.
Tekanan harga pangan juga terlihat dari perkembangan inflasi bulanan. BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22%, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,51% serta memberikan kontribusi 0,15 poin persentase.
Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,13 poin persentase. Selanjutnya, cabai rawit memberikan kontribusi 0,05 poin persentase dan tomat sebesar 0,04 poin persentase. Kenaikan harga juga terjadi pada sawi hijau, labu siam, dan sawi putih.
BPS mencatat penurunan produksi cabai merah di sejumlah daerah sentra, terutama Lombok Timur, Cianjur, dan Banyuwangi. Sementara itu, produksi cabai rawit mengalami penurunan di Jember, Sampang, dan Brebes.
Dari sisi komponen inflasi, harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 5,81% secara tahunan pada Oktober 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi inti sebesar 2,56% dan inflasi harga yang diatur pemerintah sebesar 3,24%.
Kenaikan harga cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, dan tomat menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi komponen harga bergejolak secara tahunan.
Sementara itu, secara bulanan, komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77% dengan kontribusi 0,13 poin persentase. Angka tersebut menjadi kontribusi terbesar dibandingkan komponen inflasi lainnya.
“Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,77%. Komponen ini memberikan andil inflasi terbesar yaitu andilnya 0,13%,” jelas Ateng.
Adapun dari sisi wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,07%, sedangkan DKI Jakarta menjadi provinsi dengan inflasi terendah sebesar 2,52%.
Secara kumulatif, inflasi Indonesia sejak awal tahun hingga Oktober 2026 mencapai 2,40%. (edisi/bs)
Comment