KENDARI, EDISIINDONESIA.id- Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menggelar ajang pertemuan ilmiah bertaraf internasional. Melalui The 2nd International Conference of Forestry and Environment (ICFE) 2026, akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, hingga mahasiswa berkumpul untuk membahas masa depan hutan dan lingkungan hidup, di Claro Hotel Kendari, Rabu (7/10/2026).
Mengusung tema “Forest for Future: Climate, Biodiversity, and Sustainability”, forum ini menjadi wadah bertukar gagasan dan temuan riset terkini di tengah tekanan perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pemanasan global, serta kebutuhan mendesak akan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan dibuka langsung oleh Wakil Rektor IV UHO, Prof. Takdir Saili. ICFE 2026 melibatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga mitra, antara lain Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Universitas Hasanuddin (Unhas), serta sejumlah institusi lainnya.
Turut hadir Dekan FHIL UHO, Dr. Lies Indriyani, M.Si, didampingi jajaran pimpinan fakultas. Sementara jajaran pembicara utama menghadirkan narasumber ternama dari dalam dan luar negeri: Silverius Oscar Unggul, S.P., M.M. (Kementerian Kehutanan), Prof. Wan Mohd Nazri Wan Abdul Rahman (UiTM Malaysia), Prof. Muhammad Alif K. Sahide (Unhas), Prof. Paul J. Kessler (Universitas Leiden, Belanda), serta Dr. Ahmad Dermawan (Universitas Norwegia).
Wadah Penelitian yang Melampaui Ruang Kelas
Wakil Rektor IV UHO, Prof. Takdir Saili, menegaskan bahwa konferensi ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggung bagi para peneliti untuk membagikan hasil karya nyata.
“Ini adalah kesempatan bagi para dosen sekaligus peneliti untuk memaparkan temuan-temuan mereka secara langsung. Kehadiran peserta dari beragam latar belakang — akademisi, pemerintah, hingga lembaga swadaya masyarakat — memperkaya sudut pandang. Hasil riset tidak lagi hanya dilihat dari kacamata keilmuan semata, tetapi juga dari kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Prof. Takdir menambahkan, UHO terus mendukung penyelenggaraan forum ilmiah seperti ini sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring dan kolaborasi antarlembaga, yang juga diikuti fakultas-fakultas lain di lingkungan kampus.
Hasil Diskusi Diharapkan Menjadi Kebijakan Nyata
Sementara itu, Dekan FHIL UHO, Dr. Lies Indriyani, menjelaskan bahwa ICFE merupakan agenda rutin yang diselenggarakan secara bergantian: tingkat internasional digelar setiap dua tahun, diselingi seminar nasional.
“Tahun lalu kita laksanakan seminar nasional, kini bergilir ke internasional. Tahun depan insyaallah kembali nasional, dan dua tahun lagi gelaran ketiga internasional,” ungkapnya.
Lebih penting lagi, lanjutnya, diskusi di forum ini tidak boleh berhenti di ruang sidang. Hasil pemikiran dan rekomendasi diharapkan dapat dijadikan bahan masukan langsung bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pengelolaan hutan dan lingkungan.
“Baik yang hadir langsung maupun mengikuti secara daring, diskusi ini harus sampai ke tingkat implementasi — menjadi masukan kebijakan, sekaligus mendokumentasikan temuan dalam bentuk prosiding agar bermanfaat bagi banyak pihak,” tegasnya.
Bangun Kolaborasi untuk Solusi Nyata
Ketua Panitia ICFE 2026, Dr. Zulkarnain, S.Hut., M.Si, menyampaikan bahwa konferensi kali ini merupakan edisi kedua setelah pertama kali digelar pada 2024, yang sepenuhnya diinisiasi oleh FHIL UHO.
“ICFE dirancang untuk menyatukan akademisi, pemangku kepentingan, praktisi, mahasiswa, dan peneliti. Ruang ini tidak hanya untuk berbagi gagasan dan pengalaman, tetapi juga untuk saling menguji pemikiran, sehingga lahir kolaborasi nyata menghadapi persoalan hutan dan lingkungan,” jelasnya.
Berbagai isu strategis perubahan iklim, keberlanjutan, biodiversitas, hingga pemanasan global menjadi fokus utama. Hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan mampu menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan.
“Melalui presentasi dan diskusi terbuka, para peneliti dapat membagikan temuannya, sekaligus mendapat tanggapan langsung dari praktisi dan pemerintah. Dari sinilah kita bangun jejaring dan kerja sama yang menghasilkan rekomendasi serta kebijakan yang lebih komprehensif demi pengelolaan hutan dan lingkungan yang lebih baik di masa depan,” pungkas Dr. Zulkarnain.(**)
Comment