EDISIINDONESIA.id- Sejak hari pertama menikah, Karin (43) sudah paham betul suaminya, Donwori (36), belum punya pekerjaan tetap. Jadi, untuk bisa makan dan bayar kebutuhan sehari-hari, Karin pun ikut banting tulang ikut cari nafkah bareng.
Keduanya sah diikat janji suci sejak 2011 di KUA Kabupaten Sidoarjo, dan dikaruniai dua orang anak. Dulu sempat manis, sempat rukun, dan sama-sama merantau mengadu nasib ke Kota Surabaya. Sayangnya, sejak 2017 suasana mulai berubah Donwori makin jarang memberi nafkah ke keluarga.
“Saya memang tahu dari awal menikah kalau dia belum punya pekerjaan tetap, jadi penghasilannya memang tidak menentu,” ungkap Karin.
Uang yang masuk tak cukup untuk kebutuhan, jadi Karin rela banting tulang jadi buruh pabrik. Ia pun menasihati suaminya agar berusaha mencari pekerjaan yang lebih pasti. Tapi bukannya sadar dan berubah, Donwori malah marah-marah.
“Begitu saya minta dia cari kerja yang lebih baik, bukan diterima nasihatnya — eh malah marah ke saya,” cerita Karin.
Sejak saat itu hubungan makin renggang. Akhirnya Karin memilih pulang ke rumah orang tuanya, berpisah tempat tinggal. Sempat dicoba berdamai, namun tak kunjung berhasil. Tak ada jalan lain, Karin pun menggugat cerai Donwori ke Pengadilan Agama Kota Surabaya.(edisi/radasby)
Comment