Guru Besar Ilmu Ekonomi UHO Sebut Hilirasi dan Investasi Kunci Utama Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Halu Oleo (UHO), Prof. Dr. Rosnawintang, S.E., M.Si., menegaskan hilirisasi komoditas dan investasi yang merata menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hal itu disampaikan Prof. Rosnawintang saat menjadi pemateri dalam rangkaian peringatan Hari Statistik Nasional (HSN) 2026 di gedung BPS Sultra, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari tingginya angka pertumbuhan, tetapi juga perlu dilihat dari sejauh mana manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi inklusif merupakan pertumbuhan yang tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi juga dapat memastikan adanya akses yang setara terhadap peluang tersebut bagi masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi diharapkan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok atau sektor tertentu.

Dalam paparannya, Prof. Rosnawintang menyebut pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada 2025 mencapai 5,79 persen, atau berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara pada triwulan II 2026, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara tercatat mencapai 6,19 persen.

Namun, menurutnya, tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut masih menghadapi tantangan dalam aspek pemerataan. Perekonomian Sulawesi Tenggara dinilai memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap sektor ekstraktif dan logam dasar, khususnya nikel, yang menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Karena itu, ia menilai pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan kebijakan yang mampu memperluas manfaat pembangunan pada berbagai sektor dan kelompok masyarakat, termasuk masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian dan perikanan.

“Kalau kita mau inklusif, jangan bahan mentah dikirim keluar daerah. Jadilah ini harus ada investasi,” ujar Prof. Rosnawintang.

Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi dalam meningkatkan nilai tambah komoditas. Menurutnya, pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah dapat menciptakan peluang ekonomi sekaligus membuka kesempatan kerja di daerah.

Ia memberikan ilustrasi mengenai pengolahan kayu. Bahan mentah yang memiliki nilai awal relatif rendah dapat menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar setelah melalui sejumlah tahapan pengolahan. Rantai pengolahan tersebut, menurutnya, memungkinkan terciptanya nilai tambah dan distribusi pendapatan yang lebih luas.

Dari sisi investasi, Prof. Rosnawintang menyebut realisasi investasi di Sulawesi Tenggara mencapai 154,26 persen, dengan nilai sekitar Rp20,48 triliun. Investasi tersebut disebut didominasi penanaman modal asing pada sektor logam dasar.

Menurutnya, besarnya investasi tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang memastikan manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu, tetapi dapat menciptakan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat Sulawesi Tenggara.

Ia juga menyoroti kondisi kemiskinan di Sulawesi Tenggara. Dalam pemaparannya, angka kemiskinan disebut masih berada di kisaran 10 persen, meskipun pertumbuhan ekonomi daerah relatif tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang benar-benar inklusif.

Prof. Rosnawintang mendorong agar sektor pertanian dan perikanan dapat memperoleh akses yang lebih besar terhadap peluang ekonomi yang muncul dari perkembangan investasi. Salah satu upaya yang dinilai penting adalah menghubungkan hasil sektor tersebut dengan UMKM dan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang berkembang di daerah.

Selain hilirisasi dan investasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar penduduk Sulawesi Tenggara yang bekerja memiliki tingkat pendidikan hingga jenjang sekolah dasar dan menengah.

Karena itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja dinilai diperlukan agar masyarakat memiliki daya saing dan mampu mengakses peluang kerja yang tercipta dari pertumbuhan ekonomi.

Menurut Prof. Rosnawintang, pertumbuhan ekonomi inklusif membutuhkan pendekatan jangka panjang dan berkelanjutan. Investasi, hilirisasi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perluasan akses ekonomi perlu berjalan secara beriringan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam indikator makroekonomi, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam konteks peringatan HSN 2026, ia menegaskan bahwa data statistik memiliki peran penting dalam membaca kondisi sosial dan ekonomi daerah. Pemanfaatan data yang tepat dapat menjadi dasar bagi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam memahami persoalan pembangunan serta merumuskan kebijakan yang lebih terarah.

Melalui pemaparan tersebut, isu utama yang ditekankan adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara yang didorong investasi dan hilirisasi dapat diikuti dengan perluasan kesempatan ekonomi, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan manfaat pembangunan bagi masyarakat. (**)

Comment