KENDARI, EDISIINDONESIA.id- Di tengah hiruk-pikuk kesibukan sebagai aktivis dan mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO), Rasmin Jaya justru menemukan cara lain untuk berjuang: lewat tulisan. Pemuda asal Desa Maperaha, Muna Barat ini baru saja meluncurkan buku berjudul “Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi”.
Buku ini hadir bukan sekadar sebagai kumpulan kata, melainkan refleksi pemikiran kritis terhadap dinamika sosial, politik, dan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat.
Perjuangan di Balik Halaman
Rasmin mengakui bahwa proses penulisan karya ini tidaklah mudah. Dibutuhkan konsistensi, ketekunan, dan kesabaran untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah narasi yang utuh. Baginya, literasi dan pembacaan fenomena sosial adalah “nutrisi” yang wajib diserap otak agar tetap tajam, layaknya tubuh yang butuh gizi untuk bertahan hidup.
“Mengurangi aktivitas literasi sama saja dengan mengurangi gizi otak, yang pada akhirnya berisiko menimbulkan kelumpuhan berpikir,” ujar Rasmin.
Berbeda dengan suaranya yang lantang di atas podium saat mengawal advokasi, kali ini Rasmin hadir dalam kesunyian. Di saat yang lain terlelap, ia justru meracik kata demi kata di bawah lentera malam.
“Tulisannya tak seperti bunyi halilintar yang menggelegar, tetapi seperti rintik rinai hujan yang membawa kesejukan dan kehidupan, serta menjadi cahaya yang menemani di tengah kegelapan,” demikian gambaran tentang gaya tulisannya.
Menjawab Tantangan Era
Buku ini lahir dari kegelisahan melihat dinamika perubahan zaman yang begitu cepat. Di era disrupsi dan kemajuan teknologi informasi, Rasmin menekankan bahwa kemajuan harus diimbangi dengan budaya literasi yang kuat. Jika tidak, teknologi justru bisa menjadi sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan disinformasi.
Oleh karena itu, melalui buku ini, ia mencoba merekam keresahan, harapan, dan proses panjang perjuangan menjadi bahan bacaan yang bisa dinikmati berbagai kalangan. Tulisan-tulisan di dalamnya disajikan tidak terlalu kaku atau ilmiah, sehingga mudah dipahami namun tetap tajam menyentuh persoalan fundamental bangsa, mulai dari politik, pendidikan, demokrasi, hingga isu kemahasiswaan.
“Menulis sejatinya adalah mengartikulasikan ide, pikiran, dan gagasan yang bisa dibaca dan mempengaruhi publik. Menulis itu 99 persen gagasan dan 1 persen teknis,” tuturnya.
Filosofi Perjuangan
Rasmin Jaya, yang juga dikenal sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), menegaskan bahwa buku ini adalah bentuk tanggung jawab moralnya sebagai intelektual muda. Baginya, menulis adalah cara paling sunyi untuk menjadi abadi; karya akan tetap hidup meski penulisnya telah tiada.
Dalam pesan penutupnya, ia mengajak generasi muda untuk terus bangkit.
“Balas dendam terbaik adalah memperbaiki diri dari hari ke hari. Generasi kita harus bangkit, maju, dan berpikir melampaui zamannya. Karena permata tidak akan bisa dipoles tanpa gesekan, begitu pula kesuksesan butuh proses, ketekunan, dan doa,” pungkasnya.
Profil Singkat Penulis
Rasmin Jaya lahir di Desa Maperaha, Muna Barat, 9 Oktober 1998. Perjalanan pendidikannya ditempuh dengan keras; sejak kecil ia sudah terbiasa membantu orang tua berjualan roti hingga ke jenjang perkuliahan.
Ia adalah alumni Sosiologi FISIP UHO yang kini melanjutkan studi di Pascasarjana UHO. Sepanjang masa kuliah, ia aktif di berbagai organisasi, mulai dari Ketua DPK GMNI FISIP UHO hingga Ketua DPC GMNI Kota Kendari periode 2023-2025. Komitmen pada ideologi, organisasi, dan perubahan sosial menjadi nilai yang selalu ia pegang teguh.
Merdeka, Panjang Umur Perjuangan.(**)
Comment