EDISIINDONESIA.id – Banyak dari kita yang tidak dipungkiri akan sangat senang dipuji ataupun disanjung. Namun terkadang ada orang-orang yang hanya memuji di depan, tapi mencaci saat di belakang kita.
Imam Al-Bukhori dalam kitab Sahih Al-Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis dari Muhammad bin Zaid terkait perilaku orang-orang yang memberikan pujian kepada orang lain saat mereka berada di depannya, tetapi ketika di belakang mereka mencacinya.
Sahabat Abdullah bin Umar yang mendengar cerita itu ia lalu mengatakan bahwa orang orang seperti itu adalah orang yang munafik.
حدّثنا أبُو نُعَيْمٍ، حَدثنا عاصِمُ بنُ مُحَمَّدِ بنِ زَيْدِ بنِ عَبْدِ الله بنِ عُمَرَ، عنْ أبِيهِ قالَ أُناسٌ لابنِ عُمرَ: إنّا نَدْخُلُ عَلى سُلْطاننا فَنَقُولُ لَهُمْ خِلاَفَ ما نَتَكَلَّمُ إذا خَرَجْنا مِن عِنْدِهمْ. قالَ: كُنّا نَعُدُّهُ نِفاقًا.
“Telah bercerita kepada kami Abu Nuaim, ia berkata, telah bercerita kepada kami Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullan bin Umar bahwa ada beberapa orang berkata kepada Abdullah bin Umar R.A: “Sesungguhnya bila kami datang ke hadapan para penguasa maka kami mengatakan kepada mereka lain dengan apa yang kami katakan bila kami keluar dari hadapan mereka.” Kemudian Allah bin Umar berkata, “Pada masa Rosulullah SAW kami menganggap hal yang demikian itu termasuk perbuatan munafik”. (H.R al-Bukhari)
Meskipun secara matan Hadis ini hanya disebutkan untuk memuji dan mencaci penguasa (untuk menjilat penguasa) tetapi Hadis ini bisa berlaku umum.
Artinya jika ada siapa pun yang memuji orang lain saat di depannya dan mencacinya saat orang itu tidak ada, maka orang tersebut teegolong sebagai orang munafik. Baik yang dipuji itu penguasa ataupun orang biasa.
Hal ini disebutkan oleh Syeh Mustofa Dib al-Bugha dalam salah satu kitab Syarahnya. Menurutnya, Hadis ini bisa dimaknai bahwa jujur saat di depan seseorang dan di belakangnya adalah perilaku orang orang mukmin yang jujur. Adapun memuji di depannya dan mencaci di belakangnya adalah perilaku para pengecut yang munafik.
Orang Munafik Pangkal Malapetaka
Apabila orang-orang munafik terdapat bersama-sama kita dalam kehidupan sehari-hari, maka jelas kita akan sukar menilainya sebab sikapnya yang tidak dapat dipegang antara perkataan dan perbuatannya sama sekali berbeda. Dan inilah yang akan membuat pangkal malapetaka dan kehancuran.
Rasulullah sangat mencela laku perbuatan orang-orang munafik.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR Al-Bukhari, Kitab Iman, Bab Tanda-tanda Orang Munafik
munafik merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya. Jika tidak ditangani sesegera mungkin akan mengakibatkan penderitanya binasa. Penyakit ini adalah penyakit yang amat menjijikkan dan mengakibatkan penyimpangan yang amat buruk.
Ibnu Juraij mengatakan, “Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya” (‘Umdah At-Tafsir I/78).
Comment