Ambil Alih 30,25% Saham BYAN, Langkah Haji Isam Dipuji Selamatkan Kekayaan Alam Negeri

EDISIINDONESIA.id — Langkah pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam, melalui Jhonlin Barutama, mengakuisisi 30,25 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dari Low Tuck Kwong — orang terkaya di Indonesia — dinilai sebagai keputusan yang tepat.

Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansyah, menilai aksi korporasi ini merupakan langkah nyata memperkuat kepemilikan nasional atas sumber daya alam Indonesia. Selama ini, penguasaan aset strategis dinilai belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal bagi kepentingan dalam negeri.

“Ini satu langkah yang baik. Memang masih banyak perusahaan yang beroperasi di Indonesia, namun kepemilikannya justru berada di luar negeri atau dikuasai pihak asing,” ujar Trubus kepada awak media, Kamis (22/10/2026).

Trubus menegaskan, penguasaan sumber daya alam oleh pengusaha nasional sangat penting agar kekayaan alam Indonesia tidak terus-menerus menjadi sumber keuntungan bagi pihak asing. Pengelolaan kekayaan alam semestinya diarahkan untuk menyejahterakan rakyat, sesuai semangat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Ia mengambil contoh industri kelapa sawit yang tumbuh pesat di Indonesia. Faktanya, harga minyak sawit mentah justru ditentukan oleh negara lain. Bahkan, banyak pengusaha yang meraup keuntungan besar dari perkebunan di Indonesia, lalu menyalurkan investasinya ke Singapura, bukan membangun di dalam negeri.

“Padahal yang memproduksi kita. Singapura punya apa? Luasnya bahkan lebih kecil dari Jakarta. Tapi mereka bisa menguasai penentuan harga, karena sistemnya memang dirancang demikian,” paparnya.

Menurut Trubus, penguatan kepemilikan nasional atas sumber daya alam sekaligus menjadi upaya mencegah eksploitasi berlebihan oleh kepentingan asing.

“Intinya, menyelamatkan kekayaan alam ini agar tidak diambil secara besar-besaran oleh negara lain. Itulah hakikatnya,” tegasnya.(edisi/rmol)

Comment